Jumat, 02 Mei 2014

Filosofi Asuhan Kehamilan

1. Proses kehamilan merupakan proses yang normal dan alamiah.
Hal ini perlu diyakini oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, sehingga ketika memberikan asuhan kepada pasien, pendekatan yang dilakukan lebih cenderung kepada bentuk penilaian promotiv. Realisai yang paling mudah dilaksanakan adalah pelaksanaan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pasien dengan materi-materi mengenai pemantauan kesehatan ibu hamil dan penatalaksanaan ketidaknyamanan selama hamil.

2. Pemberdayaan wanita dan keluarga dalam melaksanakan asuhan.
Salah satu upaya yang dilakukan bidan dalam memberikan asuhan adalah pemantauan kesehatan pada ibu hamil. Dalam melaksanakan pemantauan ini bidan tidak mungkin bekerja sendiri, namun membutuhkan bantuan dari pihak lain, dalam hal ini adalah pasien sendiri beserta keluarganya. Hal ini bertujuan agar pasien dan keluarga ikut merasa bertanggung jawab terhadap kesehatannya. Sehingga jika terjadi suatu gangguan dan membutuhkan suatu tindakan, pasien dan keluarga dapat berperan aktif dalam pengambilan keputusan.

3.Adanya otonomi klien dala pengambilan keputusan.
Dalam pelaksanaan asuhan, bidan sering dihadapkan pada situasi yang membuatnya harus mengambil langkah terbaik untuk pasien. Dalam penentuan keputusan ini, pasien dan keluarganya sebaiknya diberikan otonomi atau kemandirian. Hal ini akan mempunyai dampak positif bagi pasien dan keluarganya. Pertama, mereka akan merasa bertanggung jawab terhadap peningkatan kesehatannya, kedua, mereka akan lebih siap dengan segala konsekuensi yang mungkin muncul dengan keputusannya, dan ketiga, mereka akan lebih puas dengan hasil yang dicapai sehingga memudahkaan bidan dalam memantau perkembangan kesehatan pasien karena secara tidak langsung mereka juga berperan aktif dalam mengikuti perkembangan kesehatan kehamilannya hari demi hari serta akan dengan cepat datang ke fasilitas kesehatan jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya.
Dalam proses pengambilan keputusan mengenai tindakan untuk kesehatan pasien, bidan mempunyai peran dan tanggung jawab untuk memberi informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pasien.

4. Tidak memberi asuhan yang dapat menimbulkan penderitaan.
Filosofi ini mengacu pada konsep asuhan sayang ibu. Dalam pelaksanaan asuhan, posisi pasien bukan sebagai objek bagi bidan, melainkan seseorang yang datang dengan kebutuhannya dan menempatkan bidan sebagai orang yang dianggap kompeten dan dapat dipercaya untuk mengatasi permasalahan dan kebutuhannya. Dengan fakta ini sangat tidak bijaksana jika bidan dalam memberikan asuhan dalam memberikan asuhan justru menimbulkan penderitaan bagi pasien. Timbulnya penderitaan dalam konteks ini  bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan fisik saja tetapi juga berhubungan dengan psikologis pasien dan keluarganya.

5. Pemberian asuhan yang bertanggung jawab dan berorientsi pada kebutuhan klien.
Pada saat memberikan asuhan, bidan melakukan pengkajian pada pasien yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan pasien sesuai dengan usia kehamilannya. Seluruh rangkaian tahap asuhan dapat dipertanggungjawabkan baik kepada pihak pasien maupin kepada profesi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar