Sejarah asuhan kehamilan sejalan dengan perkembangan dunia kebidanan secara umum. Dimana dunia menyadari bahwa persalinan akan berjalan lancar apabila adanya peningkatan pelayanan antenatal care.
Booming terjadi pada tahun 1980-an seiring dengan munculnya safe motherhood, yaitu upaya untuk meneyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya dapat dinilai dengan sehat dan aman, serta menghasilkan bayi yang sehat, yang bertujuan utnuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas, serta menyrynkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Ada 4 pilar Safe Motherhood, meliputi : keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri yang esensial.
Selain itu juga munculnya Making pregnancy Safer (MPS) yaitu strategi sektor kesehatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah kesehatan akibat kematian dan kesehatan ibu dan bayi, dan merupakan penekanan/fokus daru upaya safe motherhood yang bertujuan untuk menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Tiga pesan kunci MPS adalah setiap persalinan ditolong tenaga kesehatan terampil, setiap komplikasi obstetri dan neonatal ditangani secara adekuat, dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanggulangan komplikasi keguguran tidak aman. Adapun target MPS menurunkan angka kematian ibu menjadi 125/100.000 kelahiran hidup, menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15/100.000 kelahiran hidup, menurunkan anemia gizi besi menjadi 20%, dan menurunkan angka kehamilan yang tidak diingini dari 17% menjadi 3%.
1. Sejarah Asuhan Kehamilan di Luar Negeri (Eropa)
Negeri Eropa merupakan pelopor pengawasan asuhan sebelum kelahiran, dibuktikan dengan banyak buku dan penelitian yang dilakukan seperti di Perancis pada tahun 1988. Wanita hamil yang diusir ditampung di dalam rumah sakit. Wanita tersebut dikumpulkan, jika tidak ada penyakit maka tiap 6 orang wanita hamil ditempatkan dalam 1 tempat tidur. Jika ada scabies tiap 5 orang ditempatkan dalam 2 tempat tidur, dan jika ada yang berpenyakit kelamin 2 orang wanita ditempatkan dalam 1 tempat tidur. Berdasarkan hasil penelitian tersebut ternyata wanita hamil yang cukup istirahat, mkan, dan rohani dapat melahirkan cukup bulan dan berat badan yang lebih besar.
2. Sejarah Asuhan Kehamilan di Luar Dalam Negeri
Di Indonesia, asuhan pada ibu hamil sudah dilakukan sejak jaman dahulu dan dilakukan oleh dukun bayi, di rumah sakit, dan pendidikan kebidanan. Pada zaman Jepang pengawasan menurun dikarenakan situasi yang terjadi pada jaman itu. Setelah peran kemerdekaan, asuhan pada ibu hamil mengalami kemajuan yang pesat. Oleh pemerintah adanya program KIA dan BKIA menjadi prioritas tinggi keberadaanya ke pelosok daerah. Sehingga meningkatkan asuhan pada ibu hamil. Sejak tahun 1995, adanya program bidan desa juga dalam rangka meningkatkan asuhan. Dalam pelaksanaannya asuhan kehamilan selalu mengikuti perubahan zaman dan tuntunan masyarakat.