Minggu, 11 Mei 2014

Sejarah Asuhan Kehamilan

  Sejarah asuhan kehamilan sejalan dengan perkembangan dunia kebidanan secara umum. Dimana dunia menyadari bahwa persalinan akan berjalan lancar apabila adanya peningkatan pelayanan antenatal care.
  Booming terjadi pada tahun 1980-an seiring dengan munculnya safe motherhood, yaitu upaya untuk meneyelamatkan wanita agar kehamilan dan persalinannya dapat dinilai dengan sehat dan aman, serta menghasilkan bayi yang sehat, yang bertujuan utnuk menurunkan angka kesakitan dan kematian ibu hamil, bersalin, nifas, serta menyrynkan angka kesakitan dan kematian bayi baru lahir. Ada 4 pilar Safe Motherhood, meliputi : keluarga berencana, asuhan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, serta pelayanan obstetri yang esensial.
   Selain itu juga munculnya Making pregnancy Safer (MPS) yaitu strategi sektor kesehatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah kesehatan akibat kematian dan kesehatan ibu dan bayi, dan merupakan penekanan/fokus daru upaya safe motherhood yang bertujuan untuk menurunkan kesakitan dan kematian ibu dan bayi baru lahir. Tiga pesan kunci MPS adalah setiap persalinan ditolong tenaga kesehatan terampil, setiap komplikasi obstetri dan neonatal ditangani secara adekuat, dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanggulangan komplikasi keguguran tidak aman. Adapun target MPS menurunkan angka kematian ibu menjadi 125/100.000 kelahiran hidup, menurunkan angka kematian neonatal menjadi 15/100.000 kelahiran hidup, menurunkan anemia gizi besi menjadi 20%, dan menurunkan angka kehamilan yang tidak diingini dari 17% menjadi 3%.

1. Sejarah Asuhan Kehamilan di Luar Negeri (Eropa)
    Negeri Eropa merupakan pelopor pengawasan asuhan sebelum kelahiran, dibuktikan dengan banyak buku dan penelitian yang dilakukan seperti di Perancis pada tahun 1988. Wanita hamil yang diusir ditampung di dalam rumah sakit. Wanita tersebut dikumpulkan, jika tidak ada penyakit maka tiap 6 orang wanita hamil ditempatkan dalam 1 tempat tidur. Jika ada scabies tiap 5 orang ditempatkan dalam 2 tempat tidur, dan jika ada yang berpenyakit kelamin 2 orang wanita ditempatkan dalam 1 tempat tidur. Berdasarkan hasil penelitian tersebut ternyata wanita hamil yang cukup istirahat, mkan, dan rohani dapat melahirkan cukup bulan dan berat badan yang lebih besar.

2. Sejarah Asuhan Kehamilan di Luar Dalam Negeri
    Di Indonesia, asuhan pada ibu hamil sudah dilakukan sejak jaman dahulu dan dilakukan oleh dukun bayi, di rumah sakit, dan pendidikan kebidanan. Pada zaman Jepang pengawasan menurun dikarenakan situasi yang terjadi pada jaman itu. Setelah peran kemerdekaan, asuhan pada ibu hamil mengalami kemajuan yang pesat. Oleh pemerintah adanya program KIA dan BKIA menjadi prioritas tinggi keberadaanya ke pelosok daerah. Sehingga meningkatkan asuhan pada ibu hamil. Sejak tahun 1995, adanya program bidan desa juga dalam rangka meningkatkan asuhan. Dalam pelaksanaannya asuhan kehamilan selalu mengikuti perubahan zaman dan tuntunan masyarakat.








Senin, 05 Mei 2014

Kewenangan Yang Bisa Dilakukan oleh Bidan Dalam Menjalankan Praktik Kebidanan

1. PELAYANAN KEBIDANAN PADA IBU :
  1. Pelayanan dan konseling
  2. Pemeriksaan fisik
  3. ANC (Antenatal Care) Normal
  4. ANC (Antenatal Care) Abnormal
  • Abortus Immenem
  • Hyperemesis Tingkat 1
  • Pre eklamsi ringan
  • Anemia ringan 
     5.  Pertolongan Persalinan Normal
     6.  Pertolongan Persalinan Abnormal
  • Letak sungsang 
  • Partus macet kepala di dasar panggul
  • KPD (Ketuban Pecah Dini) tanpa infeksi
  • Perdarahan Post Partum
  • Laserasi jalan rahim
      7. Pelayanan Nifas Normal
      8. Pelayanan Nifas Abnormal
  • Retensio Plasenta
  • Infeksi Ringan 
     (KEPMENKES RI NO.900/SK/VII/2002 Pasal 16)

2. PELAYANAN KEBIDANAN PADA ANAK :
  1. Pemeriksaan BBL (Bayi Baru Lahir)
  2. Perawatan tali pusat
  3. Perawatan bayi
  4. Resustasi BBL
  5. Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan
  6. Imunisasi
  7. Penyuluhan kesehatan 
     (KEPMENKES RI NO.900/SK/VII/2002/ Pasal 18)

3. Tindakan yang termasuk kewenangan Bidan :
  1. Imunisasi
  2. Suntikan pada penyulit kehamilan, persalinan, nifas
  3. Plasenta manual
  4. Bimbingan senam hamil
  5. Pengeluaran sisa jaringan konsepsi
  6. Episiotomi
  7. Penjahitan luka episiotomi dan luka jalan lahir s/d tk II
  8. Amniotomi pada pembekuaan > 4 cm
  9. Pemberian infus
  10. Suntikan uterotunika IM (Intra Muskular), antibiotika, sedativa
  11. Kompresi bimanual
  12. Versi ekstrasi gemeli pada kelahiran bayi ke-2 dan seterusnya 
  13. Vacum dengan kepala di dasar panggul
  14. Pengendalian anemi
  15. Meningkatkan pemeliharaan dan penggunaan ASI
  16. Resusitasi pada BBL dengan afsiksia
  17. Penanganan hipotemia
  18. Pemberian minum dengan sonde/pipet
  19. Pemberian obat-obatan terbatas, melalui lembaran permintaan
  20. Pemberian surat keterangan kelahiran dan kematian 
  (KEPMENKES RI NO.900/SK/VII/2002/ Pasal 18)

4. PELAYANAN KELUARGA BERENCANA (KB) :
  1. Memberikan obat dan alat kontrasepsi : pil, suntik, AKDR, AKBK, diasfragma, kondom jelly
  2. Memberikan penyuluhan konseling pelaksanaan kontrasepsi
  3. Melakukan pencabutan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
  4. Melakukan pencabutan AKDK (alat kontrasepsi bawah kulit)
  5. Memberikan pelayanan pada efek samping alat kontrasepsi pertolongan pertama
   (KEPMENKES RI NO.900/SK/VII/2002/ Pasal 19)

5. PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT :
  1. Pembinaan PSM (Peran serta masyarakat) di bidang kesehatan ibu dan anak
  2. Pemantauan pertumbuhan perkembangan anak
  3. Melakasanan Pelayanan Kebidanan Komunitas
  4. Melaksanakan deteksi dini, pertolongan pertama merujuk, dan peyuluhan Infeksi Menular Seksual, penyalahgunaan Narkotika, psikotropika dan Zat adiktif lainnya 
    (KEPMENKES RI NO.900/SK/VII/2002/ Pasal 20)

 A. Bidan mempunyai hak untuk memberi pertolongan kepada penyakit ringan pada ibu dan anak sesuai dengan kemampuan, sepanjang tidak ada tenaga kesehatan yang lebih kompeten.
B. Dalam keadaan darurat, bidan berhak melakukan tindakan diluar kewenangan.

   TEMPAT PRAKTIK BIDAN
  1. BPS (BIDAN PRAKTEK SWASTA)
  2. RB (RRUMAH BERSALIN)
  3. RSB(Rumah Sakit Bersalin)
  4. PUSKESMAS
  5. RS (Rumah Sakit)
PENGORGANISASIAN PRAKTIK ASUHAN KEBIDANAN
a. Mengorganisasikan pelayanan mandiri bidan
  TUGAS MANDIRI :
  1. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan yang diberikan.
  2. Memberikan pelayanan pada anak dan wanita pra nikah dengan melibatkan klien.
  3. Memberikan asuhan kebidanan pada klien selama kehamilan normal.
  4.  Memberikan asuhan kebidanan kepada klien dalam masa persalinan dengan melibatkan klien/keluarga.
  5. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir.
  6. Memberikan asuhan kebidanan pada klien dalam masa nifas dengan melibatkan klien/keluarga.
  7. Memberikan asuhan kebidanan pada wanita usia subur yang membutuhkan pelayanan keluarga berencana.
  8. Memberikan asuhan kebidanan pada wanita dengan gangguan sistem reproduksi dan wanita dalam masa klimakterium dan menopouse.
  9. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi, balita dengan melibatkan keluarga.
b Mengorganisasikan tindakan kolaborasi bidan
  TUGAS KOLABORASI
  1. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
  2. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dengan pertolongan pertama pada kegawatan yang memerlukan tindakan kolaborasi.
  3. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa persalinan dengan resiko tinggi dan keadaan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
  4. Memberikan asuhan kebidanan pada ibu dalam masa nifas degan resiko tinggi dan pertolongan pertama dalam keadaan kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan klien dan keluarga.
  5. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan resiko tinggi dan yang mengalami komplikasi serta kegawat daruratan yang memerlukan tindakan kolaborasi dengan melibatkan keluarga.
 c. Mengorganisasikan tindakan rujukan bidan
  TUGAS KETERGANTUNGAN / MERUJUK
  1. Menerapkan manajemen kebidanan pada setiap asuhan kebidanan sesuai dengan fungsi keterlibatan klien dan keluarga.
  2. Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu hamil dengan resiko tinggi dan kegawat daruratan.
  3. Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada masa persalinan dengan penyulit tertentu dengan melibatkan klien dan keluarga.
  4. Memberikan asuhan kebidanan melalui konsultasi dan rujukan pada ibu masa nifas dengan penyulit tertentu dengan melibatkan keluarga.
  5. Memberikan asuhan kebidanan pada bayi baru lahir dengan kelainan tertentu dan kegawatan yang memerlukan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan keluarga.
  6. Memberikan asuhan kebidanan kepada anak balita dengan kelainan tertentu dan kegawatan yang memerlukan konsultasi dan rujukan dengan melibatkan klien / keluarga.

Jumat, 02 Mei 2014

Filosofi Asuhan Kehamilan

1. Proses kehamilan merupakan proses yang normal dan alamiah.
Hal ini perlu diyakini oleh tenaga kesehatan khususnya bidan, sehingga ketika memberikan asuhan kepada pasien, pendekatan yang dilakukan lebih cenderung kepada bentuk penilaian promotiv. Realisai yang paling mudah dilaksanakan adalah pelaksanaan Komunikasi Informasi dan Edukasi (KIE) kepada pasien dengan materi-materi mengenai pemantauan kesehatan ibu hamil dan penatalaksanaan ketidaknyamanan selama hamil.

2. Pemberdayaan wanita dan keluarga dalam melaksanakan asuhan.
Salah satu upaya yang dilakukan bidan dalam memberikan asuhan adalah pemantauan kesehatan pada ibu hamil. Dalam melaksanakan pemantauan ini bidan tidak mungkin bekerja sendiri, namun membutuhkan bantuan dari pihak lain, dalam hal ini adalah pasien sendiri beserta keluarganya. Hal ini bertujuan agar pasien dan keluarga ikut merasa bertanggung jawab terhadap kesehatannya. Sehingga jika terjadi suatu gangguan dan membutuhkan suatu tindakan, pasien dan keluarga dapat berperan aktif dalam pengambilan keputusan.

3.Adanya otonomi klien dala pengambilan keputusan.
Dalam pelaksanaan asuhan, bidan sering dihadapkan pada situasi yang membuatnya harus mengambil langkah terbaik untuk pasien. Dalam penentuan keputusan ini, pasien dan keluarganya sebaiknya diberikan otonomi atau kemandirian. Hal ini akan mempunyai dampak positif bagi pasien dan keluarganya. Pertama, mereka akan merasa bertanggung jawab terhadap peningkatan kesehatannya, kedua, mereka akan lebih siap dengan segala konsekuensi yang mungkin muncul dengan keputusannya, dan ketiga, mereka akan lebih puas dengan hasil yang dicapai sehingga memudahkaan bidan dalam memantau perkembangan kesehatan pasien karena secara tidak langsung mereka juga berperan aktif dalam mengikuti perkembangan kesehatan kehamilannya hari demi hari serta akan dengan cepat datang ke fasilitas kesehatan jika terjadi sesuatu dengan kehamilannya.
Dalam proses pengambilan keputusan mengenai tindakan untuk kesehatan pasien, bidan mempunyai peran dan tanggung jawab untuk memberi informasi yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pasien.

4. Tidak memberi asuhan yang dapat menimbulkan penderitaan.
Filosofi ini mengacu pada konsep asuhan sayang ibu. Dalam pelaksanaan asuhan, posisi pasien bukan sebagai objek bagi bidan, melainkan seseorang yang datang dengan kebutuhannya dan menempatkan bidan sebagai orang yang dianggap kompeten dan dapat dipercaya untuk mengatasi permasalahan dan kebutuhannya. Dengan fakta ini sangat tidak bijaksana jika bidan dalam memberikan asuhan dalam memberikan asuhan justru menimbulkan penderitaan bagi pasien. Timbulnya penderitaan dalam konteks ini  bukan hanya sesuatu yang berhubungan dengan fisik saja tetapi juga berhubungan dengan psikologis pasien dan keluarganya.

5. Pemberian asuhan yang bertanggung jawab dan berorientsi pada kebutuhan klien.
Pada saat memberikan asuhan, bidan melakukan pengkajian pada pasien yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan pasien sesuai dengan usia kehamilannya. Seluruh rangkaian tahap asuhan dapat dipertanggungjawabkan baik kepada pihak pasien maupin kepada profesi.

Pengobatan Berbasis Bukti (Evidence Based Medicine)

Salah satu aspek yang harus dipenuhi dalam memberikan asuhan kebidanan yang bertanggung jawab adalah dengan mengacu pada hasil penelitian yang paling up to date. hasil penelitian yang didapatkan beserta rekomendasi dari peneliti dijadikan sebagai acuan dalam memberikan pelayanan.Beberapa hasil penelitian mengenai ibu hamil antara lain sebagai berikut :
1.penelitian mengenai ibu hamil dari KB yang dilakukan Dra. Flourisa Julian Sudrajad, M.Kes., dari puslitbang-KR-BKKBN tahun 2003 di 10 kabupaten di Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, menemukan bahwa :
  • sebanyak 45% wanita tidak tahu mengenai jenis komplikasi dalam kehamilan;
  • sebanyak 83% wanita hamil memeriksakan kehamilannya di fasilitas kesehatan, cakupan ini lebih rendah dari target PWS-KIA, yaitu 90%;
  • cakupan K1 (kunjungan atau kontak pertama antara wanita hamil trimester I dengan tenaga kesehatan) sebanayak 56-90%, belim sesuai dengan cakupan K1 Propenas tahun 2010 sebanyak 90%;
  • cakupan K4 (kontak atau kunjungan wanita hamil yang keempat kalinya dengan tenaga kesehatan, dilakukan di trimester III) sebanayak 40-90%, target propenas tahun 2010, K4 sebesar 90%;
  • lebih dari 50% responden tidak tahu mengenai komplikasi dalam masa persalinan dan masa nifas;
  • hanya 26% cakupan bayi yang mendapat imunisasi lengkap, sedangkan 8% lainnya tidak mendapat imunisasi sama sekali;
  • tingkat pengetahuan dan KB cukup tinggi, yaitu 90%;
  • sebanyak 18-70% wanita tidak tahu bagaimana cara menghindari penyakit AIDS. 
2. penelitian yang dilakukan oleh Jumirah, dkk, tahun1998 menemukan bahwa ibu hamil penderita anemia berat mempunyai resiko 4,2 kali lebih besar untuk melahirkan bayi dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR).

3.dari staf pengaja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia mengemukakan hasil penelitiannya mengenai pemeriksaan kehamilan terhadap pemelihan penolong persalinan, yaitu sebagai berikut :
  •  ibu hamil yang melakukan ANC minimal 4 kali mempunyai peluang dua kali lebih besar untuk memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinannya daripada ibu hamil ANC yang kurang dari 4 kali.
  • ibu hamil yang mendapat konseling pada saat ANC mempunyai peluang 3,7 kali lebih besar untuk memilih tenaga kesehatan sebagai penolong persalinan daripada ibu hamil yang tidak mendapat konseling.
4. S.M Willer seorang peneliti dari Utrecht University, Belanda, menemukan bahwa ibu hamil yang mengonsumsi apel selama masa kehamilannya dapat mengurangi asma pada bayinya.

5. seorang peneliti Denmark mengatakan bahwa ada korelasi yang positif antara meminum susu selama hamil dengan berat badan dan panjang badan bayi yang dilahirkan.

6. Ezzra Susser peneliti dari Amerika menemukan bahwa penurunan mental pada anak-anak disebabkan oleh penyakit flu yang diderita oleh sang ibu saat kandungannya berjalan pada tiga bulan pertama masa kehamilan (trimester I).

7. Rossi Anggraini 2007 menemukan bahwa jarak kelahiran daro tujuh bulan meningkatkan risiko kematian perinata; sebesar 4,77 kali dibandingkan dengan jarak kelahiran yang lebih dari tujuh bulan.

8. Dr, Cuno S,P,M. Uiterwaal, pemimpin penelitian dan professor yang bekerja sama dengan klinik epidemiologi di University Medical Center, Utrecht menemukan bahwa orang tua perokok dapat membahayakan kesehatan anak mereka, termasuk sistem kardiovaskuler mereka yanbg dapat dideteksi sejak awal kehamilannya.

9.serta masih banyak lagi penelitian lainnya.

Kamis, 01 Mei 2014

Informasi yang diberikan ketika memberikan Asuhan Kebidanan

Trimester I
a. Menjalin hubungan saling percaya
ini merupakan langkah paling awal namun akan sangat menentukan kualitas asuhan di waktu-waktu berikutnya.hubungan saling percaya antara pasiendan bidan mutlak harus dapat dipenuhi sehingga informasi dan penatalaksanaan yang diberikan dapat selalu sesuai dengan data yang disampaikan pasien secara jujur. bisa dibayangkan jika pasien tidak dapat percaya dengan bidan dan memeberikan data yang tidak sesuai ,maka terjadi gangguan pada ibu,bidan tidak dapat mendeteksi sehingga akan berakibat fatal yaitu salahdalam memberikan pelayanan.
b.Deteksi masalah
pada tahap awal pemberian asuhan,bidan melakukan deteksi kemungkinan masalah atau komplikasi yang muncul dengan melakukan penapisan-penapisan.Beberap diantaranya adalah penapisan kelainan bentuk panggul pada pasien dengan tinggi badankurang dari 145 cm,pre-eklamsi,hipertensi dalam kehamilan,infeksi dan sebagainya. penapisan ini dilakukan melalui proses pengkajian data subjektif dan objektif serta ditunjang dengan pemeriksaan laboratorium,USG,serta rontgen.
c. mencegah masalah (TT dan anemia)
pencegahan masalah anemia merupakan prioritas utama yang harus dilakukan oleh bidan karena anemia merupakan penyebab utama perdarahan postpartum.Berdasarkan data Departemen Kesehatan, penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia adalah perdarahan. Selain anemia, bidan juga harus melakukan pencegahan penyakit tetanus neonaturum karena penyakit ini memberikan peran yang cukup besar dalam menyebabkan kematian bayi.
d.persiapan persalinan dan komplikasi
meskipun proses persalinan masih cukup lama, namun bidan tetap harus menyampaikan informasi ini seawal mungkin sehingga pasien dan keluarga sudah mempunyai gambaran mengenai apa yang harus direncanakan. Selain itu untuk memberdayakan pasien dan keluarga, beberapa komplikasi yang mungkin terjadi dalam kehamilan juga perlu disampaikan sejak dini sehingga pasien dan keluarga dapat ikut aktif dalam pemantauan perjalanan kehamilannya.
e. perilaku sehat (gizi, latihan/senam, kebersihan, istirahat).
untuk informasi ini bidan perlu menyampaikan materi perilaku hidup sehat secara terperinci karena aspek ini merupakan hal sangat menentukan kualitas kesehatan ibu hamil.

Trimester II
  Gejala pre-eklamsi Ringan
setelahbidan menyimpulkan bahwa pasien sudah cukup paham dengan informasi yang harus diketahui pada trimester I, maka pada trimester II bidan memberikan informasi yang berkaitan dengan pre-eklamsi ringan. Bidan mengajak pasien dan keluarga untuk aktif dalam memantau kemungkinan gejala-gejala pre-eklamsi ringan dalam kehamilannya sehingga timbil tanggung jawab bagi pasien dan keluarga untuk mempertahankan kesehatannya secara mandiri.

Trimester III
a. Gemeli (28-36 minggu)
pada usia kehmilan ini informasi yang perlu disampaikan adalah hasil pemeriksaan kesejahteraan janin dalam kandungan, salah satunya adalah janintunggal atau ganda. informasi tersebut akan mengurangi beberapa kekhawatiran yang dirasakan oleh ibu dan keluarga berkaitan dengan janin.
b. Letak janin (> 36 minggu)
gambaran persalinan yang akan dilalui merupakan salah satu hal yang dikhwatirkan oleh ibu dan keluarga pada akhir masa kehamilan. Informasi mengenai kepastian letak dan posisi janin akan mengurangi kecemasan pasien. Ibu akan merasa lebih siap jika di berikan gambaran mengenai proses persalinan secara lengka.